MENUJU HADIRAT ILAHI — BAB 4

Bismillahirrahmanirrahim

 

Pada pembahasan kali ini saya ingin berbagi ulasan pembahasan mengenai melawan musuh-musuh jiwa , sekedar sharing khasanah mengenai panduan bagi kafilah ruhani, tanpa ada maksud lain apapun, pembahasan didalam uraian-uraiannya adalah masih berbentuk tanya jawab antara guru dengan murid, semoga dengan membaca uraian ini di harapkan agar perjalanan-perjalan seorang salik di dalam penghambaan terhadap Allah SWT bisa semakin mudah dan di fahami, sehingga kedekatan terhadap Allah SWT untuk mendapatkan rahmat dan ridhloNYA akan tercapai amin.

 

BAB 4 – MELAWAN MUSUH MUSUH JIWA

 

Aku bertanya : “Wahai Syaikh, semoga Allah merahmatimu, engkau telah menerangkan kepadaku tentang melawan hawa nafsu, lalu factor apakah yang dapat menguatkan seorang hamba untuk mengusir musuh-musuh jiwa, hawa nafsu dan setan?”

 

Dia menjawab : “Faktor utama yang paling kuat adalah kesadaran seorang hamba tentang kewajiban yang telah di tetapkan Allah kepadanya, yaitu senantiasa memerangi hawa nafsu. Allah SWT berfirman, seseungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka anggaplah di amusuh (QS Fathir ; 6). Dan firman-NYA, barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan hanya menyuruh untuk mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar (QS Al-Nur ; 21)”.

 

Kedua ayat diatas adalah argumentasi yang dapat meneguhkan seseorang dalam memerangi musuh-musuhnya. Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk memusuhi setan, dan Dia juga memerintahkan mereka untuk memeranginya. Inilah factor yang menguatkanmu untuk melawan musuhmu, jika kamu lengah barang sedikitpun, musuhmu akan mengalahkanmu dan menghalangimu dari beribadah kepada Allah, bukankah kamu tahu bahwa Allah telah mewajibkan kamu untuk melawan musuhmu dan memerintahkanmu untuk memeranginya? Maka, jika kamu telah mengetahuinya, membantu mengalahkannya.

 

“Akan tetapi ingatlah bahwa meusuhmu selalu memperbesar peluang untuk menjatuhkanmu. Dia akan terus memperbesar peluang untuk menjatuhkanmu. Dia akan terus menggodamu sehingga dapat mengalahkanmu. Pada saat itu, kamu akan khawatir dengan kemenangannya dalam menggodamu dan mengajakmu pada kemaksiyatan yang di picu oleh nafsumu. Baik kamu sadari atau tidak, dia akan berusaha untuk menghancurkanmu, menjatuhkan martabatmu di hadapan Tuhanmu, memburukkan citramu, menghilangkan kaykinanmu, dan melemahkan ketulusanmu untuk melawanya.”

 

Aku bertanya: “jelaskanlah kepadaku perbuatan apa yang dapat menolongku untuk melawan dan menolak godanya?”

 

Dia menjawab : “Pahamilah dan bedakanlah antara dua seruan, yaitu seruan yang berasal dari Allah, dan seruan dari iblis. Kemudia, perhatikanlah baik-baik, seruan manakah di antara kedua seruan itu yang lebih utama kamu penuhi. Apakah yang lebih layak kamu pebuhi adalah seruan yang mengajakmu pada kebinasaan, kerugian sepanjang hidupmu, dan kefakiran yang membuatmu takut menghadapinya? Ataukah, yang lebih layak kamu penuhi adalah seruan Tuhan yang telah memberimu banyak kenikmatan, yang sejak azali selalu mengingatmu dan tidak pernah melupakanmu sesaatpun. Bukankah dia yang dalam keabadian-Nya mengkhususkanmu dengan keyakinan terhadap yang gaib? Bukankah Dia yang telah menyerumu untuk meraih surgan-Nya dan kemulian-Nya? Dan, untuk menikmati kelembutan kebijaksanaan-Nya dan kesempurnaan nikmat-Nya?”

 

“Sesungguhnya, musuhmu menghendaki terputusnya hubunganmu dengan Allah, tuhan dan Tuanmu. Ia telah memasang banyak perangkap yang dapat menjeratmu dalam disa dan menjatuhkan citramu sebagai hamban-Nya. Di antara perangkap itu adalah prasangka buruk, cepat menyerah, putus asa, dan keragu-raguan dalam keimanan. Tipu dayanya sangat lihai dan jerat-jeratnya sangat halus dan kuat sehingga ketika ia menipu dan menjeratmu, kamu tidak merasakan bahwa dirimu telah berada dalam tawananny. Dan, kamu pun tidak merasa telah melakukan kesalahan dan dosa.”

 

“Allah SWT berfirman, dan setan telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah (QS Al-Naml ; 27, Al-Ankabut ;38).”

 

“Ketahuilah, musuhmu ingin menjauhkanmu dari kedekatan dengan Allah, Pahala yang banyak, nikmat-Nya yang utama. Ia member keraguan dalam dadamu, menghilangkan ketenangan dalam jiwamu dan menciptakan kebingungan dalam hatimu, ia telah melemahkan ketekunanmu dalam beribadah kepada-Nya dan mengantinya dengan kemalasan.”

 

“Musuhmu telah menghalangimu untuk memperolah keyakinan dan keteguhan dalam jaminan rezeki, kecukupan, dan perlindungan Allah karena keimananmu dan ketaatanmu kepada-nya, ia telah mengajarimu kekikiran, menakut-nakutimu dengan kefakiran dan panjang angan-angan, berburuk sangka terhadap janji Tuhan, melemahkan niatmu. Ia telah merusak ketetapan hatimu, menunda-nunda keinginanmu untuk bertobat, menghalangimu dari menyambut seruan Tuhan, dan ingin menjauhkanmu di sisi Penciptamu Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.”

 

“Oleh karena itu, jika kamu telah mengetahui semua ini, persiapkanlah dirimu untuk melawan musuhmu dengan permusuhan yang sengit. Lalu, bencilah dia dengan kebencian yang nyata, tunjukanlah kegigihanmu dalam melawannya. Dan janganlah kamu sekali-kali mengadakan perdamaian dengannya karena hal itu akan membawamu pada kehancuran.”

 

Aku bertanya ; “Semoga Allah merahmatimu, Mungkinkah seorang menerima ajakan orang yang membencinya dan mentaati orang yang akan membinasakannya ?”

 

Dia menjawab : “Mungkin, sebab, seorang terkadang tidak cermat dalam meneliti sikap keberagamannya. Ia memahami pokok-pokok agam, tetapi tergelincir karena meremehkan hal-hal kecil yang di utamakn oleh agama. Disebabkan oleh kelalaiannya, ia bisa saja menentang hal-hal yang prinsip dalam agama. Dan, di sebabkan oleh pengetahuannya yang dangkal, ia dapat saja tidak mengetahui kebenaran sejati. Ketika berada dlam keimanan yang kuat, seseorang mungkin akan membenci musuhnya dan mayakini kejahatannya. Pada waktu itu, ia tidak akan menerima ajakannya dan tidak akan menyambut bujukannya, namun, ketika ia lalai, hal sebaliknya dapat saja terjadi.”

“ingatlah, musuh-musuh jiwa (nafsu dan setan) akan selalu membujukmu dan merayumu, mereka akan mendatangimu sambil menunjukkan bukti bahwa melakukan kesalahan-kesalahan ringan tidak berbahaya. Mereka juga akan meyakinkanmu bahwa mengikuti ajakan dan seruannya tidak mudarat. Lalu, hawa nafsumu tertarik untuk mengikuti bujuk rayunya.”

 

“Ingatlah, disaat rayuan musuhmu telah kamu turuti, kamu akan terbiasa melakukan dosa-dosa, lalu, kamu akan meremehkan agama, dan akhirnya, kamu akan menjadi tawanan musuhmu selamanya. Pada waktu itu, matamu akan buta dari melihat kearifan, dan telingamu akan tuli dari mendengar kebenaran, kamu akan menjadi abdi setan karena telah mematuhi semua ajakannya.”

 

“Oleh karena itu, enyahkanlah musuhmu, carilah jalan keselamatan dengan senantiasa melawan dalam semua keadaan, rayuan, godaan, dan bujukan, singkirkanlah! Waspadalah terhadap semua tipu dayanya, kemudian, berpegang teguhlah pada kewarakan.”

 

semoga bermanfaat

 

alhamdulilllahirrabilalamin

About Hendra

Belajar untuk selalu bisa saling mencintai dan mengasihi terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

Posted on 12 February 2012, in Tasawuf and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: