MENUJU HADIRAT ILAHI — BAB 3

 

BAB 3  ; INTROPEKSI DIRI ( MUHASABAH )

Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan kali ini saya ingin berbagi ulasan pembahasan mengenai Muhasabah / introspeksi , sekedar sharing khasanah mengenai panduan bagi kafilah ruhani, tanpa ada maksud lain apapun, pembahasan didalam uraian-uraiannya adalah masih berbentuk tanya jawab antara guru dengan murid, semoga dengan membaca uraian ini di harapkan agar perjalanan-perjalan seorang salik di dalam penghambaan terhadap Allah SWT bisa semakin mudah dan di fahami, sehingga kedekatan terhadap Allah SWT untuk mendapatkan rahmat dan ridhloNYA akan tercapai amin.

Aku bertanya ; “Wahai syaikh. Semoga Allah merahmatimu, apa makna introspeksi diri (muhasabah)?”

Dia Menjawab : “Akal selalu menjaga nafsu dari penghianatannya, mengetahui kekurangan diri, dan menilai baik-buruknya perbuatan yang telah di kerjakan.”

Aku bertanya : “Jelaskanlah kepadaku tentang introspeksi ini secara detail.”

Dia Menjawab : “Hadapkanlah semua perbuatan yang telah kamu lakukan di hadapanmu. Lalu kamu bertanya, Mengapa aku harus melakukan ini? Atau katakanlah kepada dirimu, siapakah aku yang melakukan perbuatan ini? Maka, jika perbuatan itu karena Allah, teruskanlah perbuatan itu. Akan tetapi jika karena selain-Nya, cegahlah perbuatan itu. celalah dirimu karena ia telah menuruti dorongan hawa nafsu dan hukumlah ia atas perbuatan itu. Dengan demikian, kamu akan mengetahui keburukan akalmu dan kamu harus menilai kebodohannya. Kamu juga telah mengetahui bahwa nafsu adalah musuhmu karena ia telah menggelincirkanmu dalam dosa dan telah mengajakmu untuk memutuskan hubungan dengan penciptamu.”

Aku bertanya : “Darimana sumber introspeksi itu?”

Dia menjawab : “dari takut akan kekurangan, buruknya kerugian dan keinginan mendapatkan kelebihan di dalam keuntungan. Teman sejati akan mempertimbangkan kepada siapa dia bergaul karena khawatir mendapatkan kerugian. Dia berharap mendapatkan keuntungan yang berlimpah dari dagangannya. Hal ini seperti yang di tanyakan oleh nabi Yunus a.s kepada salah seorang perempuan ahli ibadah, “dengan apa kamu mendapatkan kelebihan?”

“Perempuan ahli ibadah itu menjawab, Dengan mencari Tuhan dan itrospekasi diri”

Aku bertanya ; “Apa makna ucapan Umar ibn Al-Khaththab r.a, Hisablah dirimu sebelum kamu di hisab?”

Dia menjawab : “Introspeksi diri dan mempertimbangkan segala hal yang dapat menjerumuskan jiwa pada kebatilan, walaupun hanya seberat biji sawi”

Aku bertanya : “Apakah buah dari introspeksi {1} itu?”

Dia menjawab : “Bertambahnya kepandaian dan kecerdasan dalam memberikan argumentasi. Dengan introspeksi, pengetahuan seseorang akan bertambah luas. Dan, ini bergantung pada kecakapan hati dalam mengevaluasi diri.”

Aku bertanya ; “Apa yang dapat menguatkan seorang hamba untuk melakukan introspeksi?”

Dengan menjawab ; “Dengan tiga hal, Pertama, memutuskan segala hubungan yang dapat menyibukan dirinya dari meninggalakan kemauan kuat melakukan introspeksi. Sebab, orang yang ingin menghitung utangnya, dia harus mengosongkan hatinya dari setiap kesibukan. Kedua, menyendiri dalam introspeksi sehingga dia hawatir tidak mencapai apa yang di harapkan dari introspeksi itu. Ketiga, takut kepada allah SWT. Yang akan menanyai perbuatannya yang melampaui batas. Nabi SAW bersabda; Hendaklah seorang mukmin memerhatikan saat-saat ketika menghisab dirinya (HR Abu ya’la dan Al-Bazzar dari Abu Hurairah)

Aku bertanya ; “Dalam introspeksi, mengapa hati dapat di kalahkan?”

Dia menjawab : “Karena hawa nafsu dan syahwat mampu menguasainya. Hawa nafsu dan syahwat adalah lawan dari kearifan ilmu, dan kebenaran. Akibatnya, hati di kalahkan dan di butakan dari kearifan.”

Aku bertanya ; “Semoga Allah merahmatimu, beriahukanlah kepadaku tentang hawa nafsu yang dapat menghalangi hatiku dari introspeksi!”

Dia menjawab ; “Hawa nafsu yang selalu bergantung pada syahwat dan cenderung pada kesenangan. Hawa nafsu ini mempunyai kemampuan untuk melemahkan jiwa dan menguasai hati sehingga mengikuti ajakannya”

Aku bertanya ; “Bagaimana caranya aku menghukum nafsuku atas dosa yang di lakukannya ?”

Dia menjawb : “Pisahkanlah antara ia dan kesukaannya; ambillah cambuk untuk menakutinya; lakukanlah pengawasan secara terus menerus setiap gerakannya; Kurangilah makanannya; biarkanlah ia dalam kehausan; sibukanlah ia dengan kerja keras; cabutlah kenikmatannya; tahanlah amarahnya dengan ancaman yang memberinya pelajaran. Dengan semua itu, kamu dapat menundukan kekuatannya dalam melemahkan jiwa dan penguasaannya terhadap hati. ”

“Wahai pemuda, ketahuilah, pada saat itu nafsumu menjadi hina. Ia akan tunduk kepadamu setelah kekuatannya lenyap, dan kekuasaannya hilang. Dan, ia akan menempuh jalan yang lurus dan konsisten menapakinya (istiqamah) menuju penciptanya. Hanya kepada, Allahlah kita memohon pertolongan (Taufiq).”

LITERATUR

{1} Al-Muhasibi terkenal dengan sikap introspeksinya (al-Muhasabah) baik dalam pengetahuan maupun tindakan. Oleh karena itu. Dia dinamai Al-Muhasibi (orang yang yang melakukan introspeksi). Dalam setiap buku yang dikarangnya, Al-Muhasibi selalu berbicara tentang introspeksi. Abu Na’im Al-Ishbahani telah menghimpun buku berisi nasihat-nasihat Al-Muhasibi tentang introspeksi diri.

About Hendra

Belajar untuk selalu bisa saling mencintai dan mengasihi terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

Posted on 6 February 2012, in Tasawuf and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: