MENUJU HADIRAT ILAHI — BAB 2

 

BAB 2  ; KELEMAHAN JIWA (FATRAH)

Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan kali ini saya ingin melanjutkan pembahasan setelah uraian pertama kemarin yakni tentang TAUBAT, karena masih ada kaitannya dengan Taubat bab kali ini tidak sebanyak seperti yang kemarin, sekedar sharing khasanah mengenai panduan bagi kafilah ruhani, tanpa ada maksud lain apapun, pembahasan didalam uraian-uraianyya adalah masih berbentuk tanya jawab antara guru dengan murid, semoga dengan membaca uraian ini di harapkan agar perjalanan-perjalan seorang salik di dalam penghambaan terhadap Allah SWT bisa semakin mudah dan di fahami, sehingga kedekatan terhadap Allah SWT untuk mendapatkan rahmat dan ridhloNYA akan tercapai amin.

Aku bertanya ; “Apa yang sering terjadi setelah bertaubat ?”

Dia menjawab ; “kembali kepada perbuatan dosa yang sama karena kelemahan jiwa untuk menjauhinya  (fatrah)”.

Aku bertanya ; “Wahai syaikh, semoga Allah merahmatimu, Bagaimana permulaan terjadinya kelemahan jiwa itu?”

Dia menjawab ; “Dorongan-dorongan nafsu dan syahwat muncul darlam diri seseorang, lalu dorongan-dorongan itu mendapat sambutan dari dalam jiwanya, kemudian jiwa itu merasa nyaman dalam keadaan lemah (fatrah), dan akhirnya ia pun menginggalkan ketekunan dan kerja keras dalam menghindari perbuatan dosa”

Aku bertanya ; “Bagaimana kelemahan jiwa bisa menjadi kuat?”

Dia menjawab ; “Dari sedikitnya pengetahuan tentang manfaat bertobat dan sikap meremehkan anugerah besar (hidayah tobat) yang allah berikan kepadanya.”

Aku bertanya : “Dari mana seseorang mendapatkan kelemahan seperti ini?”

Dia menjawab ; “dari percampuran hati dengan berbagai kesenangan dunia dan keseringan mengerjakan yang ringan (rukh-shah) {1}, pada saat itu, dia cenderung pada kelemahan jiwa (fatrah) dan kelalaian bertobat, sehingga menjadi tawanan bagi hawa nafsunya”

Aku bertanya ; “Semoga Allah merahmatimu, apa tanda fatrah itu ? dan apakah hati dapat mengenalinya ?”

Dia menjawab ; “ya, wahai pemuda, permulaan fatrah adalah kemalasan, jika ada penjagaan yang kuat, lenyaplah kamalasan itu, jika tidak, kemalasan akan terus meningkat dan timbullah hasrat untuk melakukan perbuatan dosa, jika rasa takutnya menguat, ia akan menjadi penghalang bagi dirinya agar tidak kembali kepada perbuatan dosa, akan tetapi, jika tidak, hasrat untuk kembali kepada perbuatan dosa akan bertambah kuat, dan dia akan lari dari ketaatan, kecuali jika niat yang kuat untuk kembali pada ketaatan masih ada di dalam hatinya, jika tidak, dia akan menjadi orang yang sesat, dan kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal semacam itu”

“Jika telah tersesat, dia keluar dari rasa takut (kepada Allah) dan masuk kedalam rasa aman yang menghanyutkan, lalu perbuatan dosanya akan meluas hingga ke tempat-tempat yang membinasakan orang banyak, pada saat itu, tersingkaplah tirai keadilan ilahi karena Dia membeberkan kejelekannya di hadapan semua orang, hal yang demikian ini terjadi di sebabkan oleh sedikitnya introspeksi diri.”

LITERATUR {1,}

 

{1} Rukhshah adalah pengecualian hukum syariat karena adanya keadaan darurat, seperti meng-qashar shalat (shalat yang seharusnya dilakukan empat rakaat menjadi dua rakaat) bagi musafir dan berbuka puasa bagi musafir dan orang-orang sakit.

 

Semoga bermanfaat alhamdulillahirabbilalamin

About Hendra

Belajar untuk selalu bisa saling mencintai dan mengasihi terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

Posted on 5 February 2012, in Tasawuf. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: