SUMPAH BHISMA

Bhisma

Dengan riang hati, raja menyambut dan membawa sang putra ke istana. Anak yang di kelilingi aura keagungan dan kemudaan ini di nobatkan menjadi putra mahkota.

Empat tahun berlalu. Suatu hari, raja berjalan-jalan di pinggir sungai Yamuna. Tiba-tiba udara menyebarkan keharuman yang luar biasa. Raja mencari sumber keharuman. Ternyata sumbernya berasal dari seorang gadis yang jelita, secantik bidadari kahyangan. Berkat kebaikan hati seorang resi, keharuman yang sedemikian luar biasa akan selalu menguar dari tubuh gadis itu dan sekarang seluruh hutan menjadi harum karena kehadiran gadis tersebut.

Sepeninggal Dewi Gangga, Raja Sentanu selalu berusaha menahan hasrat dan hawa nafsu. Tetapi,  kecantikan gadis itu membuatnya hilang kendali dan terbawa gairah asmara yang meluap-luap. Raja Sentanu meminang gadis itu untuk menjadi permaisurinya.

Berkatalah gadis jelita itu : “Paduka raja, namaku Setyawati. Aku seorang penangkap ikan. Ayahku kepala nelayan di daerah ini. Silahkan Paduka membicarakan permintaanmu dengan ayah. Semoga dia menerima pinanganmu.” Suaranya seelok tubuhnya.

Ayah gadis itu memang cerdik.

Katanya : “Daulat Tuanku, memang sudah saatnya putri hamba menikah dengan seorang lelaki, seperti gadis-gadis lain. Paduka boleh meminangnya. Namun demikian, sebelumnya hamba mohon Paduka mau berjanji di hadapan hamba.”

Kata raja sentanu : “Apa pun syarat yang Anda ajukan akan aku pernuhi.”

Kepala nelayan itu memohon : “Jika anak hamba melahirkan anak laki-laki, paduka harus menobatkannya menjadi putra mahkota.”

Meskipun sedang di mabuk asmara pada Setyawati, Raja Sentanu tidak dapat menyanggupi persyaratan ayah Setyawati. Ia sadar syarat itu akan berarti menyingkirkan Dewabrata, putra Dewi Gangga yang seelok dewa, dari posisi putra mahkota. Harga yang terlalu memalukan untuk di tanggung. Oleh karena itu, ia kembali ke istana Hastinapura. Perasaannya campur aduk tidak karuan. Raja menyimpan rapat rahasianya. Ia simpan rapat kegelisahan hatinya ia banyak mengurung diri dan melamun.

Suatu hari, Dewabrata bertanya kepada ayahnya : “Ayahanda memiliki semua yang mungkin di inginkan orang. Tetapi, mengapa ayahanda tampak sedemikian murung, spertinya, ayahanda menyimpan rahasia yang menyesakkan hati”.

Prabu Sentanu menjawab : “Anakku, apa yang kau katakan benar. Ayahanda memang tersiksa perasaan gundah gulana, engkau adalah anakku satu-satunya dan engkau selalu sibuk dengan urusan keprajuritan. Hidup di dunia ini penuh dengan ketidakpastian dan selalu saja ada perang. Jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi padamu, garis keturunan keluarga kita akan putus, punah. Tentu saja engkau sebanding dengan seratus anak, namun demikian para tetua cendikiawan mengatakan bahwa hidup di mayapada, dunia ini punya satu anak sama artinya tidak punya anak sama sekali. Sungguh sayang kelangsungan keluarga kita tergantung pada seorang saja. Sebenarnya ayahanda memikirkan garis keturunan keluarga kita, inilah yang menyebabkan ayah berduka.” Sang ayah berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi, ia merasa malu pada anaknya.

Dewabrata yakin pasti ada alasan rahasia yang mengganggu ketenangan hati ayahnya. Kemudian ia bertanya kepada sais kereta ayahnya, barulah ia tahu tentang pertemuan sang ayah dengan seorang gadis penangkap ikan di pinggiran sungai Yamuna. Kemudian ia pergi kepada kepala nelayan itu, dan meminangkan anak gadisnya demi sang ayah.

Kepala nelayan itu menerimanya dengan hormat, tetapi tetap bersikukuh dengan syaratnya : “Sebenarnya anak gadis hamba pantas menjadi permaisuri ayahanda paduka. Oleh karena itu, bukankah wajar jika kelak anak lelakinya akan menggantikannya menjadi raja ? tapi paduka telah di nobatkan sebagai putra mahkota dan dengan demikian akan menggantikannya. Inilah masalahnya.”

Jawab dewabrata : “Baiklah, tolong ingat baik-baik kataku, anak lelaki yang dilahirkan anak gadismu akan di nobatkan menjadi raja. Aku rela tidak naik tahta demi keinginan ayahanda untuk melanjutkan garis keturunan keluarga. ” dewabrata mulai mengucapkan sumpahnya.

Setelah itu, kepala nelayan itu berucap, “wahai putra mahkota yang paling bijaksana diantara semua keturunan brata, tuan telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh para pewaris tahta sampai saat ini. Tuan memang seorang pahlawan. Silahkan tuan membawa anak gadis hamba untuk di peristri ayahanda tuanku. Namun demikian, mohon tuanku terus mendengarkan dengan sabar kata-kata hamba ini, sebagi ayah anak gadisku. Hamba  yakin tuanku akan menepati janji. Tapi apa yang dapat hamba gunakan untuk menguatkan harapan bahwa keturunan tuanku tidak akan menuntut hak mereka ? keturunan tuanku pasti akan menjadi pahlawan-pahlawan besar, seperti tuanku. Pasti akan sulit untuk menolak jika mereka berusaha merebut kerajaan dengan paksa. Inilah permasalahan yang menggangu pikiran hamba.”

Mendengar pertanyaan sangat sulit yang diajukan ayah gadis pujaan ayahandanya, dewabrata yang memutuskan untuk meniggalkan keinginan duniawi demi ayahandanya, mangucapkan sumpah pamungkas. Ia bersumpah dihadapan ayah anak gadis itu : “Aku berjanji tidak akan kawin dan akan menjalani  kesucian sepanjang hidupku.” Ketika dewabrata mengucapkan sumpah sucinya, para dewa menaburkan bunga-sunga semerbak diatas kepalanya dan terdengar suara-suara yang mengelu-elukan, “Bhisma…. Bhisma…… Bhisma…..” Sejak saat itu Dewabrata di kenal sebagai Bhisma.

Demikianlah, putra Batari Gangga memboyong Setyawati ke Hastinapura untuk ayahandanya.

Dari perkwawinan dengan Setyawati, raja Sentanu mendapatkan dua putra, Chitrangada dan Wicitrawirya, Wicitrawirya menjadi raja menggantikan saudaranya. Wicitrawirya mempunyai dua anak, Destarata dan Pandu, dari kedua permaisuri, Ambila dan Ambalika. Anak Destarata yang berjumlah seratus di kenal sebagai kurawa. Pandu mempunyai lima anak yang di kenal sebagai pandawa.

Bhisma menjalani kehidupan yang panjang ia di hormati sebagai sesepuh keluarga sampai perang besar di medan Kurusetra.

————————————————————————————————————————————————————–

Berikut adalah silsilah keluarga

silsilah Bhisma Kurawa dan Pandawa

DEWABRATA

Ibunda Dewabrata (Bhisma)

Ibunda Dewabrata (Bhisma)

“Siapakah dirimu, wahai sang dewi, jadilah istriku.” Demikianlah kata Maharaja Sentanu kepada Dewi Gangga yang berdiri di hadapannya dalam wujud manusia. Raja Sentanu terpesona pada kecantikan sang dewi yang jauh melampaui kecantikan manusia biasa.

Dengan sepenuh hati sang raja meminang sang dewi.  Raja berjanji akan memberikan kerajaan, kekayaan, bahkan nyawanya.

Dewi Gangga menjawab ; “Paduka Raja, aku bersedia menjadi istrimu. Asalkan engkau atau siapa pun tidak boleh menanyakan dari mana dan siapakah aku sebenarnya. Engkau juga tidak boleh menghalangi apapun yang aku lakukan, baik atau buruk. Engkau tidak boleh marah kepadaku apa pun alasannya. Engkau tidak boleh mengatakan sesuatu yang mebuatku sedih. Jika engkau melanggar syarat-syarat itu, aku akan pergi meninggalkanku. Apakah engkau setuju dan bersedia berjanji tidak akan melanggarnya ?”.

Raja yang mabuk kepayang bersumpah akan mematuhi semua persyaratan itu. Akhirnya, Dewi Gangga diperistri dan tinggal bersama Raja Sentanu.

Hati sang raja terpikat oleh kesederhanaan, keanggunan, dan cinta Dewi Gangga yang tidak pernah surut. Mereka menjalani kehidupan yang amat membahagiakan. Tak terasa waktu berlalu sangat cepat.

Dewi Gangga melahirkan banyak anak. Setiap anak yang baru saja ia lahirkan ia bawa dan benamkan di Sungai Gangga. Kamudian ia kembali pada raja dengan wajah berseri-seri.

Melihat tindakan istrinya yang sedemikan kejam, Raja Sentanu merasa cemas dan sangat sedih. Tapi, ia hanya dapat menyimpannya dalam hati. Ia ingat pada janjinya dulu. Sering kali raja bertanya – Tanya dalam hati, siapakah sebenarnya permaisurinya, dari mana ia berasal, dan mengapa ia bertindak seperti  layaknya tukang sihir yang kejam. Karena takut melanggar sumpah dan cinta yang sedemikian besar, raja sama sekali tidak menyalahkan atau mencela perbuatan permaisuri.

Demikianlah, Dewi gangga membunuh ketujuh anaknya. Ketika anak ke delapan lahir dan akan dibuang ke sungai Gangga, Raja Seantanu menahan permaisuri untuk melakukan tindakan kejam itu.

“Wahai, Raja yang Agung, “ jawab Dewi Gangga, ”Engkau telah melanggar janjimu padaku. Hatimu telah tertambat pada anak ini. Berarti engkau tidak membutuhkankuu lagi, aku akan pergi. Baiklah, aku tidak akan membunuh aanak ini. Sebelum menghakimiku, dengarkan penjelasanku dulu. Sebenarnya aku adalah Batari Gangga yang dipuja para dewa dan manusia. Aku terpaksa memainkan lakon yang kejam ini karena kutuk Resi Wasistha. Resi Wasistha mengutuk delapan wasu sehingga terlahir di dunia manusia. Mereka kemudia memohon kesediaanku untuk menjadi ibu mereka. Dengan perkenanmu, aku melahirkan mereka ke dunia. Sebagai balas budi telah menolong mereka, kelak engkau akan mencapai tempat yang lebih tinggi di alam baka. Aku akan membawa anak bungsumu dan membesarkannya. Kelak, aku akan menyerahkan kembali anak ini sebagai pemberianku padamu.” Setelah berkata demikian, Batari Gangga menghilang bersama bayi itu. Kelak bayi ini akan di kenal sebagai Bhisma.

Beginilah kisah megapa kedelapan wasu terkena kutuk Resi Wasistha : suatu hari mereka berjalan-jalan di pegunungan bersama dengan istri-istri mereka. Di pegunungan itu terdapat pertapaan Resi Wasistha. Salah satu dari mereka melihat sapi Resi Wasistha, Nandini, sedang merumput. Keelokan Nandini sungguh memukau dan ia pun berseru kepada para istri. Mereka semua terpesona pada binatang mengagumkan itu. Lalu, salah satu istri meminta kepada suaminya  untuk menangkap sapi tersebut.

Si suami yang diminta, menjawab : “Apa gunanya sapi itu bagi kita, para dewa ? sapi itu kepunyaan resi Wasistha, penguasa wilayah ini. Manusia akan menjadi abadi jika minum susu sapi itu ; tapi apa gunanya bagi kita, yang telah di takdirkan hidup abadi, lagi pula, kita akan celaka jika resi Wasistha murka hanya karena memperturutkan hasrat dan kesenangan ?”

Tapi sang istri tidak peduli. Katanya, “Aku punya teman terkasih. Ia manusia biasa. Demi dialah, aku memintamu mengambil sapi itu. Sebelum Resi Wasistha kembali,, kita telah pergi jauh membawa sapi itu. Demi aku, penuhilah keinginanku ini. Ini sangat berarti bagiku.” Akhirnya, suaminya menurut. Kedelapan wasu itu bersama-sama menangkap nandini dan anaknya. Lalum mereka melarikannya jauh-jauh.

Ketika kembali ke pertapaan, resi Wasistha tidak menemukan nandini dan anaknya. Sapi itu sangat di butuhkan untuk upacara persembahan hariannya. Berkat kekuatan yoga, Resi Wasistha segera tahu apa yang terjadi. Ia amat murka dan mengucapkan kutuk atas para wasu. Resi, yang telah meninggalkan keduniawian dan hanya memikirkan masalah ruhani, emngutuk para wasu akan terlahir ke dunia manusia. Ketika menyadari bahwa mereka terkena kutuk, penyesalan selalu datang terlambat, para wasu segera bersimpuh di hadapan resi Wasistha untuk mohoon belas kasih dan ampunan atas kesalahan mereka.

Resi Wasistha berkata : “Kutuk telah terucap dan akan berlaku pada waktunya nanti. Prabhasa, wasu yang melarikan sapiku akan menjalani kehidupan yang panjanga dalam kemuliaan. Para wasu lain yang segera setelah terlahir di dunia akan lepas dari kutuk. Aku tidak dapat membatalkan, tapi dapat melunakkan kutukanku.” Kemudian, Resi Wasistha kembalu memusatkan konsentrasi pada keheningan, yang semula bergolak karena amarah. Seorang resi yang sedang bertapa brata memang mendapatkan ekuatan untuk mengutuk, tapi setiap kali ia menggunakan kekuatannya untuk mengucapkan kutukan, tingkat kesucian yang telah dicapai akan berkurang.

Mendengar itu, para wasu merasa lega. Kemudian mereka menghadap Batari Gangga dan memohon : “Sudilah kiranya Batari menjadi ibu kami. Sudilah kiranya Batari turun ke bumi dan menikahi pria yang bermartabat. Buanglah kami ke sungai Ganga segera setelah kami lahir. Lepaskan kami dari kutukan. “ dewi Gangga mengabulkan permohonan mereka. Ia turun ke bumi dan menjadi permaisuri Raja Sentanu.

Ketika dewi Gangga menghilang dan membawa bayinya yang kedelapan, raja meninggalkan semua kesenangan duniawi dan memerintah kerajaan dengan sangat asketisme. Suatu hari, ketika berjalan-jalan di tepi Sungai Gangga, dia melihat seorang anak laki-laki yang di lingkupi aura keagungan dan keelokan Dewandra, raja para dewa-dewi. Anak itu sedang bermain panah. Ia berulang kali melepas anak panah ke seberang Sungai Gangga. Tidak ada siapa-siapa di dekatnya. Tiba-tiba, dihadapan raja yang sedang takjub pada keelokan dan ketangkasan anak iktu, Dewi Gangga menampakkan diri. Sang dewi mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya sendiri.

Katanya : “Wahai, paduka Raja, inilah anak kita yang kedelapan. Ia sudah besar. Dia kunamai Dewabrata. Aku mengajarinya menguasai seni perang. Kesaktiannya setara dengan kesaktian Parasurama. Ia telah mempelajari Weda dan Wedanta dari Resi Wasistha. Ia juga menguasai kesenian dan ilmu yang di kuasai Sukra. Terimalah anak ini. Kelak ia akan menjadi pemanah, pahlawan, dan negarawan besar.’ Kemudian Batari Durga memberkahi anak itu ; menyerahkan kepada ayahnya, Raja Sentanu dan menghilang.

———————————————————————————————————————————————————————-

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kisah di atas ? mari renungkan bersama.

GANAPATI, SANG JURU TULIS

ganesha, juru tulis kitab Mahabharata.

Ganesha / Ganapati

Begawan Wiyasa, pengarang kitab Weda yang masyur itu, adalah anak resi Parasana. Wiyasalah yang memberikan epos besar Mahabharata pada dunia.

Setelah merumuskan Mahabharata, Begawan Wiyasa memikirkan cara untuk menyampaikan kisah suci ini pada dunia. Ia berdoa kepada Dewa Brahma, Dewa pencipta. Dewa Brahma segera muncul di hadapannya. Ia memberikan salam hormat dengan menundukkan kepala, menyembah, dan mengajukan permohonan :

“Dewa, saya telah menyelesaikan sebuah karya yang sangat baik, tapi tidak dapat menemukan orang yang dapat menuliskannya sementara saya mendiktekan cerita ini.”

Dewa Brahma memuji Wiyasa dan berkata ; “Resi Wiyasa, undang dan mintalah Ganapati untuk membantumu menuliskan cerita ini.” Setelah itu, dewa Brahma menghilang. Wiyasa bersemadi mengundang Ganapati, yang segera muncul di hadapannya. Wiyasa menyambutnya dengan hormat dan meminta bantuan Ganapati.

“Wahai Ganapati, saya akan mendiktekan kisah Mahabharata dan saya mohon Anda berkenan menuliskannya.”

Ganapati menjawab : “Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau minta. Tapi, dengan satu syarat, yakni, penakau tidak boleh berhenti saat aku sedang menuliskannya. Sehingga, kau harus mendikte tanpa jeda atau keraguan. Aku hanya dapat menulis dengan syarat ini.”

Wiyasa setuju, namun ia juga mengajukan syarat balasan : “Baiklah, tapi Anda harus memahami dulu makna apa yang saya diktekan sebelum menuliskannya.”

Ganapati tersenyum dan menyetujui syarat itu.

Kemudian sang resi pun mulai mendaraskan kisah Mahabharata. Sekali dua kali ia menyusun beberapa bait kompleks yang memaksa Ganapati berhenti sejenak untuk memahami maknanya dan wiyasa menggunakan kesempatan itu untuk menyusun bait-bait di benaknya. Begitulah Ganapati menuliskan kisah Mahabharata dengan didikte Wiyasa.

Dan itulah yang terjadi sebelum ada percetakan. Ingatan orang yang telah mempelajari suatu kisah menjadi satu-satunya “ Tempat penyimpanan”. Wiyasa mengajarkan kisah itu pertama kali kepada Resi Suka, putranya. Kemudian , ia menguraikan pada murid yang lain. Jika tidak demikian, mungkin kisah itu tidak mungkin akan sampai ke generasi di masa depan.

Tradisi mengatakan, narada mengisahkan kisah ini kepada para dewa, sementara Resi Suka mengajarkannya kepada gandarwa, raksasa, dan yaksa. Orang tahu bahwa Waisampayana yang saleh dan terpelajar, salah satu murid utama Wiyasa, mengisahkan epos ini untuk kebaikan umat manusia. Janamejaya, putra maharaja Parikesit, melakukan upacara pengorbanan besar sementara Waisampayana mengisahkan Mahabharata atas permintaannya. Kemudian, seperti yang di katakannya Waisampayana, kisah ini di daraskan di hutan Naimisa di hadapan para resi yang dipimpin oleh Resi Saunaka.

Suta memberikan salam pada resi itu, “Aku beruntung mendapatkan kesempatan mendengarkan kisah Mahabharata yang disusun Wiyasa untuk mengajarkan dharma dan tujuan-tujuan hidup yang lain kepada umat manusia. Aku ingin mengajarkan kisah ini kepada kalian. ” Mendengar perkataan itu, para petapa itu segera berkumpul mengelilingi Suta.

Suta Melanjutkan : “Aku mendengar kisah Mahabharata dan cerita-cerita episode yang ada didalamnya dari Waisampayana ketika Raja Janamejaya melakukan upacara pengorbanan. Setelah itu, aku melakukan peziarahan yang ke berbagai tempat Suci. Aku Juga mengunjungi medan perang tempat terjadinya perang besar itu. Sekarang, aku ke sini untuk menemui kalian semua” Kemudian , ia menceritakan keseluruhan kisah Mahabharata di depan sejumlah besar petapa itu.

Setelah kematian Maharaja Sentanu,Chitrangada menjadi raja Hastinapura. Kemudian ia di gantikan oleh Wicitrawirya. Wicitrawirya mempunyai dua anak – Destarata dan pandu. Karena putra tertua dari bersaudara itu terlahir buta, Pandu, putra kedua, naik tahta. Ketika berkuasa, Pandu melakukan suatu dosa dan harus mengasingkan diri ke hutan bersama dua istrinya. Ia menjalani hukuman selama bertahun-tahun.

Dalam masa pengasingan itu, kedua istri pandu, Dewi Kunti dan Dewi Madri, melahirkan lima putra, yang kemudian di kenal sebagai lima Pandawa. Dalam pengasingan itu, Pandu mati. Selama awal idup mereka, kelima Pandawa dibesarkan para resi.

Ketika Yudhistira, putra Tertua, berusia enam belas tahun, para resi membawa mereka kembali ke Hastinapura dan mempercayakan mereka kepada kakek mereka Bhisma.

Dalam waktu singkat kelima Pandawa dapat menguasai Kitab Weda, Wedanta, dan berbagai seni yang perlu di kuasai Kesatria. Para Kurawa, putra-putra Destarata yang buta, menjadi iri hati dan berusaha mencederai mereka dengan berbagai cara.

Akhirnya, Bhisma, sesepuh  keluarga, campur tangan untuk mendamaikan kedua belah pihak. Dengan perjanjian itu, pandawa dan Kurawa mulai memisahkan pemerintahan. Pandawa memerintah Indraprasta dan Kurawa memerintah Hastinapura.

Beberapa lama kemudian, terjadilah permainan dadu antara Kurawa dan Pandawa sesuai tradisi kehormatan kesatria. Sengkuni, yang bermain atas nama Kurawa, mengalahkan Yudhistira. Akibatnya, Pandawa harus mengasingkan diri selama tiga belas tahun. Mereka meninggalkan kerajaan dan pergi ke hutan bersama dengan istri mereka yang setia, Drupadi.

Menurut perjanjian dalam permainan dadu itu, Pandawa harus menghabiskan dua belas tahun di hutan dan pada tahun ke tiga belas mereka harus mengembara tanpa di kenal orang. Ketika mereka kembali dan meminta Duryudana mengembalikan Kerajaan mereka, Duryudana menolak. Akibatnya, terjadilah perang. Pandawa mengalahkan Duryudana dan mendapatkan kembali kerajaan warisan keluarga mereka.

Kelima pandawa memerintah kerajaan selama tiga puluh tujuh tahun. Setelah itu, mereka menyerahkan singgasana pada cucu mereka, Parikesit. Kemudian, mereka mengundurkan diri kehutan bersama Drupadi. Mereka semua meninggalkan pakaian kebesaran dan hanya mengenakan pakaian dari kulit kayu.

Demikianlah ringkasan kisah Mahabharata. Dalam epos kuno yang Luar biasa dari tanah India ini, kita dapat menemukan kisah-kisah yang ilustratif dan ajaran-ajaran luhur, disamping kisah perjalanan hidup kelima Pandawa. Kita dapat mengatakan bahwa Mahabharata merupakan samudra luas dan dalam yang berisi permata dan mutiara berharga yang tidak terhitung jumlahnya. Bersama dengan Ramayana, Mahabharata merupakan sumber etika dan kebudayaan India yang tidak ada habis-habisnya.

MENUJU HADIRAT ILAHI — BAB 5

menuju hadirat ilahi bab 5

Wara'

Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan kali ini saya ingin berbagi ulasan pembahasan mengenai Wara’ , sekedar sharing khasanah mengenai panduan bagi kafilah ruhani, tanpa ada maksud lain apapun, pembahasan didalam uraian-uraiannya adalah masih berbentuk tanya jawab antara guru dengan murid, semoga dengan membaca uraian ini di harapkan agar perjalanan-perjalan seorang salik di dalam penghambaan terhadap Allah SWT bisa semakin mudah dan di fahami, sehingga kedekatan terhadap Allah SWT untuk mendapatkan rahmat dan ridhloNYA akan tercapai amin.

 

BAB 5 – WARAK

Aku bertanya ; ”Wahai sayaikh, semoga Allah merahmatimu, apa makna warak ?”

Dia menjawab ; ”warak ialah penyelidikan yang dilakukan oleh hati ketika hendak mengerjakan suatu perbuatan sehingga ia dapat membedakan antara yang hak dan yang batil”

Aku bertanya ; “Adakah jawaban lain?”

Dia menjawab : “Ya, menghilangkan apa yang meresahkan hati dan meninggalkan apa yang diragukannya”

Aku berkata : “Mohon di jelaskan kembali maksud ucapanmu tadi?”

Dia menjawab : “hakikatwa warak adalah meninggalkan apa yang meragukanmu dan melakukan apa yang meyakinkanmu” {1}

Aku bertanya : “Dari mana sumber warak itu?”

Dia menjawab : “Warak bersumber dari rasa takut, sebagaimana dikatakan orang Arab, ‘Ra’ani fulan wa rawwa’ani’. Maksudnya, seseorang telah menakut-nakutiku sehingga aku merasa takut kepadanya, jadi warak itu bersumber dari rasa takut.”

Aku bertany ; “Apa tanda warak itu?”

Dia menjawab : “Meninggalkan penyakit-penyakit hati dan menyelidiki sebab-sebab yang menimbulkannya”

Aku berkata ; “MOhon jelaskan maksud perkataanmu”

Dia menjawab : “Sesungguhnya warak yang paling utama adalah meninggalkan perbuatan yang dibolehkan karena khawatir akan menimbulkan perbuatan-perbuatan yang dilarang”

Aku bertanya ; “Apa yang emnuatkan seserang untuk berbuat warak?”

Dia menjawab : “Takut kepada-Nya. Jika takut telah tertanam dalam hatiny, ia akan berbuat warak, yaitu bersikap hati-hati agar perbuatannya tidak menimbulkan dampak negative.”

Aku bertanya ; “Keadaan apakah yang menambah rasa takut kepada-Nya?”

Dia menjawab : “Mengetahui kesaksian hati pada kemurkaan allah dan Siksaan-Nya”

Aku bertanya ; “Lalu, apa lagi yang dapat menambahnya?”

Dia menjawab : “Wahai pemuda, pengetahuan warak bersumber dari makrifat. Oleh karena itu, keutamaan warak bergantung kepada seberapa besar rasa takut yang bersemayam dalam jiwa seseorang dan seberapa luas pengetahuan yang dimiliki hatinya. Dan warak itu sesuai dengan kadar kobaran rasa takutnya.”

Aku bertanya ; “hal apakah yang dapat melemahkan sikap warak?”

Dia menjawab : “Kecenderungan pada dunia, ketamakan dan hasrat untuk menguasainya, padahal, tidak akan merugi orang yang kehilangan dunia”

Aku bertanya ; “Apa derajat paling tinggi yang di capai oleh orang yang warak ? ”

Dia menjawab : “Derajat yang paling tinggi adalah awal derajat kezuhudan.”

 

LITERATUR

{1} ulama salaf berbeda pendapat tentang makna wara’, sebagimana yang disebutkan oleh Al-Muhasibi dalam bukunya, Al makasib, yaitu : pertama, meninggalkan apa saja yang meresahkan hati (atau yang hati tidak merasa nyaman mengerjakannya). Ini adalah mazhab Al-Tsauri, Ibrahim ibn Adham, wurhaib ibn Al-Ward, dan syu’aib ibn Harb. Kedua, meninggalkan semua hal yang masih subhat, belum jelas halal dan haramnya, ini adalah madzhab Ahli hadis, Al-Auzai, mukhalld Ibn Al-Husain, Ali ibn Bakkar, dan Muhammad ibn Muqatil. Ketiga, meninggalkan hal-hal yang di bolehkan karena khawatir mengerjakan hal-hal yang tidak di bolehkan (di halalkan). Ini adalah mazhab Al-Thawus, ibn sirin dan Ayyub ibn Aun. Lihat, a’mal Al-Qulub wa Al-jawarih, hlm.206

 

MENUJU HADIRAT ILAHI — BAB 4

Bismillahirrahmanirrahim

 

Pada pembahasan kali ini saya ingin berbagi ulasan pembahasan mengenai melawan musuh-musuh jiwa , sekedar sharing khasanah mengenai panduan bagi kafilah ruhani, tanpa ada maksud lain apapun, pembahasan didalam uraian-uraiannya adalah masih berbentuk tanya jawab antara guru dengan murid, semoga dengan membaca uraian ini di harapkan agar perjalanan-perjalan seorang salik di dalam penghambaan terhadap Allah SWT bisa semakin mudah dan di fahami, sehingga kedekatan terhadap Allah SWT untuk mendapatkan rahmat dan ridhloNYA akan tercapai amin.

 

BAB 4 – MELAWAN MUSUH MUSUH JIWA

 

Aku bertanya : “Wahai Syaikh, semoga Allah merahmatimu, engkau telah menerangkan kepadaku tentang melawan hawa nafsu, lalu factor apakah yang dapat menguatkan seorang hamba untuk mengusir musuh-musuh jiwa, hawa nafsu dan setan?”

 

Dia menjawab : “Faktor utama yang paling kuat adalah kesadaran seorang hamba tentang kewajiban yang telah di tetapkan Allah kepadanya, yaitu senantiasa memerangi hawa nafsu. Allah SWT berfirman, seseungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka anggaplah di amusuh (QS Fathir ; 6). Dan firman-NYA, barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan hanya menyuruh untuk mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar (QS Al-Nur ; 21)”.

 

Kedua ayat diatas adalah argumentasi yang dapat meneguhkan seseorang dalam memerangi musuh-musuhnya. Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk memusuhi setan, dan Dia juga memerintahkan mereka untuk memeranginya. Inilah factor yang menguatkanmu untuk melawan musuhmu, jika kamu lengah barang sedikitpun, musuhmu akan mengalahkanmu dan menghalangimu dari beribadah kepada Allah, bukankah kamu tahu bahwa Allah telah mewajibkan kamu untuk melawan musuhmu dan memerintahkanmu untuk memeranginya? Maka, jika kamu telah mengetahuinya, membantu mengalahkannya.

 

“Akan tetapi ingatlah bahwa meusuhmu selalu memperbesar peluang untuk menjatuhkanmu. Dia akan terus memperbesar peluang untuk menjatuhkanmu. Dia akan terus menggodamu sehingga dapat mengalahkanmu. Pada saat itu, kamu akan khawatir dengan kemenangannya dalam menggodamu dan mengajakmu pada kemaksiyatan yang di picu oleh nafsumu. Baik kamu sadari atau tidak, dia akan berusaha untuk menghancurkanmu, menjatuhkan martabatmu di hadapan Tuhanmu, memburukkan citramu, menghilangkan kaykinanmu, dan melemahkan ketulusanmu untuk melawanya.”

 

Aku bertanya: “jelaskanlah kepadaku perbuatan apa yang dapat menolongku untuk melawan dan menolak godanya?”

 

Dia menjawab : “Pahamilah dan bedakanlah antara dua seruan, yaitu seruan yang berasal dari Allah, dan seruan dari iblis. Kemudia, perhatikanlah baik-baik, seruan manakah di antara kedua seruan itu yang lebih utama kamu penuhi. Apakah yang lebih layak kamu pebuhi adalah seruan yang mengajakmu pada kebinasaan, kerugian sepanjang hidupmu, dan kefakiran yang membuatmu takut menghadapinya? Ataukah, yang lebih layak kamu penuhi adalah seruan Tuhan yang telah memberimu banyak kenikmatan, yang sejak azali selalu mengingatmu dan tidak pernah melupakanmu sesaatpun. Bukankah dia yang dalam keabadian-Nya mengkhususkanmu dengan keyakinan terhadap yang gaib? Bukankah Dia yang telah menyerumu untuk meraih surgan-Nya dan kemulian-Nya? Dan, untuk menikmati kelembutan kebijaksanaan-Nya dan kesempurnaan nikmat-Nya?”

 

“Sesungguhnya, musuhmu menghendaki terputusnya hubunganmu dengan Allah, tuhan dan Tuanmu. Ia telah memasang banyak perangkap yang dapat menjeratmu dalam disa dan menjatuhkan citramu sebagai hamban-Nya. Di antara perangkap itu adalah prasangka buruk, cepat menyerah, putus asa, dan keragu-raguan dalam keimanan. Tipu dayanya sangat lihai dan jerat-jeratnya sangat halus dan kuat sehingga ketika ia menipu dan menjeratmu, kamu tidak merasakan bahwa dirimu telah berada dalam tawananny. Dan, kamu pun tidak merasa telah melakukan kesalahan dan dosa.”

 

“Allah SWT berfirman, dan setan telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah (QS Al-Naml ; 27, Al-Ankabut ;38).”

 

“Ketahuilah, musuhmu ingin menjauhkanmu dari kedekatan dengan Allah, Pahala yang banyak, nikmat-Nya yang utama. Ia member keraguan dalam dadamu, menghilangkan ketenangan dalam jiwamu dan menciptakan kebingungan dalam hatimu, ia telah melemahkan ketekunanmu dalam beribadah kepada-Nya dan mengantinya dengan kemalasan.”

 

“Musuhmu telah menghalangimu untuk memperolah keyakinan dan keteguhan dalam jaminan rezeki, kecukupan, dan perlindungan Allah karena keimananmu dan ketaatanmu kepada-nya, ia telah mengajarimu kekikiran, menakut-nakutimu dengan kefakiran dan panjang angan-angan, berburuk sangka terhadap janji Tuhan, melemahkan niatmu. Ia telah merusak ketetapan hatimu, menunda-nunda keinginanmu untuk bertobat, menghalangimu dari menyambut seruan Tuhan, dan ingin menjauhkanmu di sisi Penciptamu Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.”

 

“Oleh karena itu, jika kamu telah mengetahui semua ini, persiapkanlah dirimu untuk melawan musuhmu dengan permusuhan yang sengit. Lalu, bencilah dia dengan kebencian yang nyata, tunjukanlah kegigihanmu dalam melawannya. Dan janganlah kamu sekali-kali mengadakan perdamaian dengannya karena hal itu akan membawamu pada kehancuran.”

 

Aku bertanya ; “Semoga Allah merahmatimu, Mungkinkah seorang menerima ajakan orang yang membencinya dan mentaati orang yang akan membinasakannya ?”

 

Dia menjawab : “Mungkin, sebab, seorang terkadang tidak cermat dalam meneliti sikap keberagamannya. Ia memahami pokok-pokok agam, tetapi tergelincir karena meremehkan hal-hal kecil yang di utamakn oleh agama. Disebabkan oleh kelalaiannya, ia bisa saja menentang hal-hal yang prinsip dalam agama. Dan, di sebabkan oleh pengetahuannya yang dangkal, ia dapat saja tidak mengetahui kebenaran sejati. Ketika berada dlam keimanan yang kuat, seseorang mungkin akan membenci musuhnya dan mayakini kejahatannya. Pada waktu itu, ia tidak akan menerima ajakannya dan tidak akan menyambut bujukannya, namun, ketika ia lalai, hal sebaliknya dapat saja terjadi.”

“ingatlah, musuh-musuh jiwa (nafsu dan setan) akan selalu membujukmu dan merayumu, mereka akan mendatangimu sambil menunjukkan bukti bahwa melakukan kesalahan-kesalahan ringan tidak berbahaya. Mereka juga akan meyakinkanmu bahwa mengikuti ajakan dan seruannya tidak mudarat. Lalu, hawa nafsumu tertarik untuk mengikuti bujuk rayunya.”

 

“Ingatlah, disaat rayuan musuhmu telah kamu turuti, kamu akan terbiasa melakukan dosa-dosa, lalu, kamu akan meremehkan agama, dan akhirnya, kamu akan menjadi tawanan musuhmu selamanya. Pada waktu itu, matamu akan buta dari melihat kearifan, dan telingamu akan tuli dari mendengar kebenaran, kamu akan menjadi abdi setan karena telah mematuhi semua ajakannya.”

 

“Oleh karena itu, enyahkanlah musuhmu, carilah jalan keselamatan dengan senantiasa melawan dalam semua keadaan, rayuan, godaan, dan bujukan, singkirkanlah! Waspadalah terhadap semua tipu dayanya, kemudian, berpegang teguhlah pada kewarakan.”

 

semoga bermanfaat

 

alhamdulilllahirrabilalamin

DOA MINTA JADI MISKIN

 

Oleh: Hasan Husen Assagaf

TIDAK ada orang mau miskin. Semua mau kaya, mau rizkinya makmur, mau hidupnya mewah, mau urusan duniawinya dimudahkan. Tidak ada yang mau miskin, kekurangan, apalagi melarat. Semua mau hidup senang di dunia, mewah dan berlebihan tanpa memikirkan apa yang menimpa terhadap dirinya dari kekayaan yang diberikan kepadanya. Bahkan sebagian dari mereka berusaha agar bisa kaya dengan cara apapun. Dengan cara halal atau dengan cara haram. Semua cara dilakukan, yang penting bisa kaya dan berhasil.

Banyak sekali do’a-do’a yang diajarkan Nabi kita Muahammad saw agar bisa kaya, banyak rizki dan hidup senang. Ajaran Rasulallah saw untuk berdo’a dengan do’a-do’a tersebut tidak sedikit didapatkan dalam hadist. Ayat-ayat al Quran yang turun kepada beliau pun banyak mengajak agar hidup senang, makmur dan bahagia di dunia dahulu baru setelah itu di akhirat. Allah berfirman: “ Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa nereka“.

Abu Abdullah Muhammad al Qurtubi dalam tafsirnya menulis bahwa  kebaikan di dunia sangat luas mencakup diantaranya: kesehatan, istri yang soleh, anak dan keturunan, ilmu, ibadah dan pula harta benda dan kekayaan. Ini semua termasuk dalam katagori kenikmatan duniawiah. Di lain ayat Allah berfirman  “dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi”. Alqashash 77

Untuk mencari kebaikan dan kebajikan dalam hal yang berurusan dengan dunia dan akhirat, kita dianjurkan agar bersaing yang bisa mendorong untuk mencari keunggulan. “maka berlomba lombalah berbuat kebajikan” al Maaidah 48. Kalau itu yang diajarkan untuk mecari kebaikan agar bersaing, maka tidak bedanya dengan mencari harta benda dan kekayaan pula harus bersaing

Dalam bersaing untuk mencari kebaikan apapun termasuk mencari nafkah, agama menganjurkan untuk gigih, tekun dan dan ulet seolah olah kita hidup di dunia langgeng tidak bakal mati. Sesuai dengan sabda Rasulallah saw “Berjuanglah kamu di dunia seolah olah kamu bakal hidup selama lamanya dan beribadatlah kamu kepada Allah seolah olah kamu akan mati besok”. 

Di samping do’a-do’a yang diajarkan untuk rizki makmur, ada pula do’a-do’a yang tak poluler di zaman ini yang diajarkan Rasulallah saw agar meminta kepada Allah kemiskinan  “Ya Allah, hidupkan aku miskin. Matikan aku miskin. Dan kumpulkan aku kelak di Padang Mahsyar ke dalam kelompok kaum miskin”. Doa ini jarang sekali dibaca tapi memang itu kenyataan doa yang diajarkan Rasulallah saw agar meminta kepada Allah kemiskinan.

Suatu ketika Rasulallah pernah ditanya tentang surga dan ahlinya, beliau menjelaskan bahwa penghuni yang paling banyak di surga adalah orang miskin. Yang dimaksud disini bukan semua orang miskin masuk surga. Akan tetapi kebanyakan penghuni surga adalah orang miskin yang sabar, soleh, taat ke pada Allah dan banyak beribadah.

Miskin. Siapa suka miskin? Semua lari dari kemiskinan dan takut miskin. Ini kenyataan hidup sekarang ini. Tidak ada orang ingin hidup miskin. Boro-boro ingin jadi miskin, bermimpi jadi orang miskin atau bertemu dengan kemiskinan atau kesusahan sama sekali tidak diharapkan.

Tapi kalau kita teliti dengan seksama memang itulah kenyataan sebagian falsafah hidup yang diajarkan Rasulallah saw kepada kita. Dan Beliau sendiri ternyata hidup dalam kondisi miskin. Ketika beliau wafat, tak ada harta yang diwariskan untuk keluarganya. Begitu pula para sahabat nabi mayoritasnya mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Hidup berlebihan atau kaya sangat jarang kita dapatkan dalam kisah kehidupan para sahabat Rasulallah. Ada diantara mereka yang kaya seperti misalnya Ustman bin Affan dan Abdurahman bin Auf, tapi mereka pun berusaha menginfakan dan rela mengeluarkan hartanya ke jalan Allah agar jadi miskin.

Imam besar Ali ra hidup miskin dan serba kekurangan. Bahkan setelah menikah dengan Fatimah binti Rasullah beliau tidak mampu mengambil seorang pembantu. Ketika istrinya, Fatimah, datang kepada Ayahnya minta kepada beliau seorang pembantu. Rasulallah pun berkata “Wahai anakku bersabarlah. Sesungguhnya sebaik baiknya wanita adalah yang bermangfaat bagi keluarganya”

Contoh lainnya, pernah satu ketika Rasulallah saw datang melancong ke rumah anaknya, Fatimah. Ketika beliau melihat anaknya mengenakan giwang dan rantai terbuat dari perak, begitu pula beliau melihat selot pintu rumahnya terbuat dari bahan sejenis perak, Rasulallah segera keluar dari rumahnya dan kelihatan tanda tanda kemarahan di wajah beliau. Beliau naik ke atas mimbar. Fatimah pun mengetahui maksud kemarahan ayahnya. Maka dicopotilah giwang, rantai dan selot pintu yang terbuat dari perak dan segera diserahkannya kepada Nabi di atas mimbar seraya berkata “Jadikanlah semua ini di jalan Allah, ya abati”. Rasulallah sangat terharu dan bergembira atas tindakan putrinya yang sangat diciantainya. Beliau pun berkata “Sungguh kamu telah melakukanya wahai anakku. Ketahuilah bahwa dunia itu bukan untuk Muhammad dan keluarganya. Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk, maka tidak ada satu orang kafir diberi minum setetes pun” 

Demikianlah contoh yang kita dapatkan dari pemimpin besar umat, Rasulallah saw dan Imam besar, Ali bin Abi Thalib yang sepanjang hidupnya selalu dalam kekurangan dan kemiskinan. Akan tetapi di lain pihak Imam Ali pun pernah menegaskan“kemungkinan kemiskinan itu bisa membawa kekufuran”. Begitu pula beliau pernah berkata: “seandainya kemiskinan itu menjelma berbentuk manusia maka saya akan bunuh”.

Assayyid Sabiq dalam fiqih sunnah mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan miskin adalah mereka yang mendapatkan problem kehidupan akibat kesulitan ekonomi. Adapun arti miskin menurut pandanganya adalah mereka yang berpenghasilan kurang dan tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan hidup sehari hari.

Ketika salah seorang kepala suku badwi dari gunung diundang raja Saudi, Faisal bin Abdul Aziz, dia sadar bahwa masyarakatnya di gurun sahara miskin. Menyaksikan kota Riyadh yang serba indah, mobil berseliweran di atas jalan beraspal, gedung tinggi, hotel tempat dia menginap terang menderang dengan cahaya lampu yang beraneka warna, beralas tikar permadani empuk, full ac, dan mengasyikan. Dia lalu bertanya kepada dirinya, mengapa ini semua tak ada di desanya? Kalo begitu masyarakat badwi miskin!

Begitulah hidup di ibu kota yang masyarakatnya selalu berlomba merebut peluang. Siapa yang paling banyak memperoleh kesempatan dan dapat mengelola dengan baik, merekalah yang menguasai, jadi kaya. Dan yang kalah bersaing tak kebagian apa pun, jatuh miskin.

Lalu, mengapa Rasulallah saw mengajarkan doa jadi miskin? Yang dimasud disini beliau bukan mengajarkan umatnya jadi miskin akan tetapi beliau mengajarkan keserhanaan, kehidupan bersama, toleransi, ke-tidakegois-an dan tidak hanya memikirkan diri sendiri, sehingga tidak menimbulkan kedengkian, kebencian antara sesama. Itulah yang diajarkan Rasulallah saw.

Orang kaya yang hanya memikirkan diri sediri, serakah, tamak, dan kikir, orang semacam ini dikatagorikan orang kaya tapi berjiwa miskin. Sebaliknya orang miskin yang menerima nasib, bersabar, tabah dengan segala musibah yang menimpah dirinya, dan ridho serta bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah, ia adalah orang miskin yang berjiwa kaya.

Orang-orang badwi yang hidup di gurun sahara, terutama yang hidup di kemah kemah yang tak pernah menikmati listrik, tak ada tv atau radio, sanggup berjalan kaki memikul beban naik turun gunung dengan untanya , mereka miskin tapi tak terasa miskin. Karena kehidupan bersama yang mereka jalani, senasib dan sederajat, tak menimbulkan kedengkian antara mereka, ini yang membuat mereka senang, bahagia menikmati kehidupan yang serba kekurangan.

Berapa banyak orang miskin di seluruh pelosok negeri, baik di sahara, di lereng lereng gunung, maupun di desa desa mereka ini mungkin siang malam bersandar dan bertawakal kepada Allah, bahkan boleh jadi kedudukan mereka lebih tinggi disini Allah dibandingkan dengan orang kaya yang hidupnya digenangi serba kemegahan akan tetapi sehari harinya lebih banyak memuaskan diri sendiri ketimbang memikirkan orang lain dan melupakan perintah Allah, sampai sekarang mereka belum pernah merasakan nikmatnya jamuan harta yang diberikan Allah kepadanya.

Demi Allah, sekali lagi saya katakan demi Allah, harta dan kekayaan adalah milik Allah. Allah lah yang memberi orang menjadi miskin dan Allah pula yang membuat orang jadi kaya. Jika Allah menginginkan si kaya menjadi miskin, dengan sekejap mata saja orang itu mejadi miskin. Jika Allah berkehendak si miskin menjadi kaya, dengan sekejap mata orang miskin itu menjadi kaya. “Katakanlah: Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatau. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tampa batas “ al-Quran

Itulah istilah kehidupan kita sehari hari, dunia ini ibarat roda yang berputar. Sebentar berada diatas dan sebentar lagi berada di wabah. Di saat berada di atas, jangan sekali kali merasa bangga tapi harus menengok kepada yang di bawah agar bisa mengimbangi jarak dengan yang dibawah. Dan bagi yang di bawah jangan tinggal diam atau putus asa. Sebab, itulah satu-satunya modal agar yang di bawah dapat berputar kembali, sementara yang di atas tidak rakus, tidak tamak, tidak sombong dan tidak serakah. Itulah yang di ajarkan agama kita agar kehidupan bersama atara si kaya dan si mikin bisa terjalin dengan baik sehingga jarak antara mereka tidak terpaut jauh.

Dalam hal ini, doa yang diajarkan Nabi patut dijadikan bahan renungan. Bahwa doa minta jadi miskin bukan berarti minta serba kekurangan. Akan tetapi yang dimaksud disini minta jadi miskin adalah minta kepada Allah agar memiliki sikap hidup yang selalu memberi perhatian kepada yang miskin, yang lemah dan yang dibawah. Biarpun kita jadi kaya dan memiliki harta berlimpah-limpah, semua itu tak berarti sedikit pun jika tak memiliki sifat perhatian untuk mengangkat yang di bawah dan menolong yang miskin.

Nah, kalau begitu, bacalah doa untuk jadi miskin seperti yang diajarkan Nabi agar tetap memiliki rasa kesederhanaan dan tak rakus yang bisa menimbulkan iri dan dengki terhadap kelompok miskin.

NARSIS – SEJARAH DAN PENGERTIANNYA

Pada bundel Majalah Psikologi Populer ANDA edisi 66 th.1982..menemu artikel tentang NARSIS..sekalian komprehensip tanya Mbah Google…Arti Kata Narsis Atau Narsisme Dan Asal Usulnya !
Tahukah anda arti kata narsis dan asal-usulnya? Narsisme atau Narsis artinya adalah perilaku memperhatikan diri sendiri SECARA BERLEBIHAN


Konon dalam dongeng masyarakat Yunanni kuno, hiduplah seorang pemuda yang bernama Narsis. Narsis adalah putra dari Dewa dan Bidadari. Orangnya tampan, namun kaku, cuek, dan angkuh.Pada suatu ketika Narsis sedang duduk-duduk ditepi kolam yang airnya bening. Dari tepi kolam itu, dia melihat betapa tampannya dirinya. Karena bayangan wajahnya yang begitu mempesona, Narsis akhirnya jatuh cinta dengan bayangan dalam kolam itu. Narsis jatuh cinta dengan dirinya sendiri. Sebenarnya teman-teman Narsis banyak yang jatuh cinta kepadanya, tetapi Narsis tidak pernah merespon mereka, ia hanya jatuh cinta pada dirinya sendiri. Ada seorang teman perempuan yang jatuh cinta kepada Narsis, namanya Gema. Gema adalah putri dari kayangan. Orangnya cantik, tetapi dia tidak normal dalam berbicara. Gema tidak bisa bicara dengan kalimatnya sendiri, tetapi hanya bicara dan mengucapkan kata-kata yang baru didengarnya dari orang lain. ketika Narsis bicara, “bagaimana kabarmu?”, Gema menjawab, “kabarmuuuuuuuu……”. “kamu dari mana?”, Gema menjawab, ”darimanaaaa….”.
Karena komunikasi antara Narsis dan Gema ini tidak lancar maka cinta Gema tidak kesampaian. Cintanya tidak didengar oleh Narsis, dan iapun frustasi. Gema bersedih dan menangis. Air matanya menetes begitu banyak sampai akhirnya melarutkan tubuh Gema. Oleh sebab itulah sampai saat ini kita hanya bisa mendengar suara Gema, tetapi wujudnya kita tidak bisa melihat.

Pada suatu kesempatan Narsis berjalan-jalan di tengah hutan. Ditempat itu dia merasakan rindu dengan pemuda yang selalu dilihatnya didalam kolam. Sampailah dia ditepi kolam yang airnya tenang. Disekelilingnya dikelilingi banyak pohon cemara. Begitu memandang ke kolam kembali dia tertegun. Ditatapnya wajah yang begitu tampan didalam kolam itu. Narsis berlutut dan ingin menyentuh wajah itu. Namun ketika wajah itu disentuh, berubahlah wajah itu menjadi riak-riak kecil air. Ditunggulah beberapa saat sampai air itu kembali tenang. Disentuhlah lagi wajah itu, dan kembali pula berubah menjadi riak air.
Narsis terus menunggu ditepi kolam itu. Dia terus merindukan pemuda dalam kolam itu. Perasaan itu begitu menyiksa. Bertanyalah ia kepada pohon cemara, “Pohon Cemara, apakah engkau pernah merasakan kerinduan seperti ini?. Narsis terus memandangi wajah itu.
Beberapa hari berlalu Narsis akhirnya sadar bahwa wajah itu adalah wajahnya. Apa yang dia inginkan sudah ia punyai. Apa yang dia rindukan sudah didapatkan. Dia menyadari dan mulai belajar mencintai orang lain. tiba-tiba Narsis merasakan seluruh tubuhnya terasa hangat. Kulitnya memancarkan cahaya yang lembut. Api cinta telah menyala dalam diri Narsis. Api itu telah membakar dan meluluhkan hati Narsis yang selama ini membeku. Hati itu telah mencair.
Sekian lama Narsis tidak muncul, teman-teman Narsis mencari ditepi kolam itu. Tetapi mereka tidak menemukannya. Mereka hanya melihat sekuntum bunga. Bagian tengahnya berwarna kuning, bentuknya seperti terompet. Kelopak bunga dibagian pingirnya berwarna putih lembut. Teman-temannya yakin itu adalah Narsis, yang tubuhnya telah menjadi bunga. Bunga itu namanya adalah bunga Narsis.
Dari cerita itu bisa diketahui orang yang termasuk kategori narsis/narsisme, yaitu:
1. mencintai diri sendiri secara berlebihan dan sulit mencintai dan menerima cinta orang lain.
2. Hanya mendengar pendapatnnya sendiri, sulit mendengar pendapat orang lain.
3. Tidak bisa merasakan perasaan orang lain.
4. Melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, bukan sudut pandang orang lain.
5. sulit mempercayai orang lain.
Tetapi orang Narsis, bisa berubah. Ketika dia bisa menyadari bahwa dirinya adalah obyek dan juga subyek, dan menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari orang lain, maka sifat narsis itu bisa hilang. Jika sifat narsis itu hilang, maka orang itupun seperti Narsis, berubah menjadi indah dan harum laksana bunga Narsis.Namun, tetap perlu diperhatikan bahwa tidak semua sikap seperti self promotion ataupun rasa percaya diri yang kita tunjukkan pasti berarti narsistik. Setiap orang harus memiliki kadar mencintai dirinya sendiri. Itu adalah hal wajar. Kalau tidak, semua orang mungkin sudah bunuh diri.
Bukankah saat kita melihat foto kita, orang yang pertama kali kita lihat adalah wajah kita sendiri. Inilah insting kehidupan kita. Hanya saja, jika insting ini berubah menjadi obsesi yang berlebihan, ia pun menjadi wajah narsistik yang merusak. Marilah kita mencintai diri dan bangga dengan diri kita, secara positif!

DIMANAKAH KEBERADAAN SURGA DAN NERAKA ?

 

PERTANYAAN ;

Mas, apakah surga dan neraka telah di ciptakan ? lalu dimanakah keberadaan keduanya ?

JAWABAN ;

secara agama ; keberadaan surga dan neraka tidak ada yang tahu, kendatipun begitu sebagian besar umat manusia beragama apapun dimuka bumi tahu bahwa surga adalah tempat orang beriman dan bertakwa, sementara neraka adalah wadahnya orang-orang durhaka, kata Athahawi dalam kitabnya Al-Aqidah as -Salafiyah yang di kenal sebagai Al-Aqidah Athahawiyah menurutnya surga dan neraka TELAH di ciptakan, keduanya tidak akan berakahir atau berhenti keberadaannya, Allah menciptakan surga dan neraka sebelum makhluk lainnya, dan Dia menciptakan penghuni masing-masing.

lalu dimanakah keberadaannya ? menurut riwayat Abu Hurairah ada seorang anak laki-laki yang menanyakan kepada Rasulullah dimana neraka berada ? maka jawab Rasulullah ; “Tahukah kamu di mana siang berada ketika malam tiba?” anak itu menjawab ; “Siang berada di mana Allah menghendakinya” lalu Rasulullah SAW bersabda, begitu pula dengan neraka, ia berada dimana Allah menghendakinya.

Riwayat tersebut menurut Ibnu Katsir mengandung dua pengertian; 1. jika kita tidak menyaksikan malam hari berada pada saat siang berarti kita tidak mengetahui malam hari itu tidak berada di suatu tempat. Demikian pula dengan neraka, ia berada di tempat yang di kehendaki oleh Allah Azza wa jalla.
2. Jika siang hari terjadi pada salah satu belahan dunia ini, berarti malam hari berada di dunia lain. Demikian juga neraka, karena surga ada maka kita tidak boleh menafikan adanya neraka dan untuk tempatnya hanya Allah yang mengetahui.

JAWABAN ;
secara science/ilmu pengetahuan umum .

Tempat yang kita hidupi ini secara fisika terdiri dari 4 dimensi. Ada tiga dimensi ruang yaitu panjang, lebar dan tinggi. Dan satu lagi dimensi yaitu dimensi waktu. Karena adanya 4 dimensi inilah kita bisa hidup dalam ruang dan waktu. Orang Bali mengatakan Butha dan Kala. Butha adalah dimensi ruang dan Kala adalah dimensi waktu.

Lalu berapakah jumlah dimensi alam ini ? Hanya 4 dimensi saja ? atau 5 dimensi, 6 dimensi, 10 dimensi, 100 dimensi atau 10000 dimensi ?

Albert Einstein percaya adanya “ Another Dimentions “, cuma belum bisa di ekplorasi secara fisika, tapi dia percaya suatu saat nanti ahli ahli fisika akan dapat membuka dimensi ini. Beberapa orang percaya dengan adanya mahluk mahluk gaib yang hidup pada dimensi mereka.. Jin, Hantu dan juga Malaikat mempunyai dunia tersendiri pada dimensi mereka masing masing.

Hindhu seperti juga bangsa Romawi dan Yunani kuno mengenal adanya Dewa Dewa, suatu mahluk superior yang tinggal pada dimensinya sendiri. Budha menyebut mahluk Adikodrati.

Lalu PatanJali dalam sutra PatanJali Yoga menyebut alam ini Aprameam, yang berarti tak terpikirkan. Dengan kata lainnya dimensi alam ini adalah tak terhingga (count’less dimentions). Durgha adalah ibu alam semesta. Telah menciptakan dimensi alam yang tak terhingga jumlahnya dengan energy Maya Sakthinya.

Dalam fisika quantum dikenal Theory Dawai yang mengatakan alam ini ada 10 dimensi tapi yang tersisa adalah 3 dimensi dan 7 dimensi lainnya menggulung

Theory lainnya adalah theory M (theory of every things). Theory ini ditemukan oleh Feynmen. Berdasarkan hasil percobaan bahwa pergerakan sebuah partikel quantum tak terprediksi. Sebuah partikel quantum melewati semua persejarahannya. Jika dilakukan perhitungan dengan rumus penjumlahan persejarahan quantum maka jumlah dimensi alam semesta menjadi 10 pangkat 120 Bandingkan dengan jumlah atom yang menyusun bumi hanya 10 pangkat 50

MENGENAL MAKHLUK ALLAH – MALAIKAT MAUT

 

Bismillahirahmanirrahim

Pada pembahasan kali ini saya ingin mengulas mengenai makhluk Allah SWT yang bernama Malaikat Maut, semoga dengan membaca uraian ini di harapkan agar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT semakin bertambah, dan semakin cinta serta mahabah . Betapa keagungan dan kebesaran Allah maha segala-galanya dan memberikan  gambaran betapa tidak berdayanya kita di hadapan Allah SWT, sehingga kita semakin memohon dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT amin.

 

MENGENAL MAKHLUK ALLAH – MALAIKAT MAUT

 

Didalam hadist di sebutkan, ketika Allah menciptakan malaikat Maut, maka beberapa makhluk ditutup dengan 1 juta Hijab. Sedangkan Besarnya hijab itu melebihi besarnya beberapa langit dan bumi. Sehingga apa bila di tuangkan seluruh air lautan dan sungai ke atas kepalanya, maka air tersebut tidak akan jatuh setetes pun di bumi.

Sesunggunya bumi bagian barat dan bumi bagian timur berada di antara kedua tangannya seperti sebuah meja dihadapan seseorang, di atasnya ada hidangan dan seseorang itu di suruh untuk memakannya, lalu hidangan itu digenggam dan di makan dengan sesuka hatinya. Begitulah gambaran malaikat maut dalam membolak balikan dunia, yakni bagai membolak balikan uang logam yang ada di dalam genggaman tangannya. Malaikat maut di ikat dengan 70.000 rantai, dan pada setiap rantai panjangnya sepanjang 1.000 tahun perjalanan. Para Malaikat yang lain tidak mengetahui keberadaan malaikat Maut, tidak mendengar suaranya, tidak mengetahui keadaannya dan tidak mengetahui kemana waktu ia pergi.

 

Di ciptakan malaikat maut oleh Allah SWT adalah untuk memegang mati (mencabut nyawa). Setelah malaikatul maut itu di beri tugas untuk mencabut nyawa, ia bertanya “Ya Tuhanku, apakah gerangan  maut itu?”. Maka Allah SWT memerintahkan hijab untuk membuka (kan diri) dan tahulah malaikat maut  akan kematian. Kemudian Allah SWT berfirman kepada sekalian malaikat ; “mendekatlah kamu semua dan lihatlah malaikat maut ini!” Setelah semua malaikat mendekat, Allah berfirman kepada malaikatul maut ; “Terbanglah di atas mereka, dan bentangkanlah seluruh sayapmu serta bukalah semua matamu!” ketika malaikatul maut menuruti semua perintah Allah SWT, sekalian malaikat pun tersungkur dan pingsan selama 1.000 tahun.

 

Subhanallah Masyaallah T_T

 

Ketika para Malaikat telah siuman kembali,  mereka bertanya kepada Allah SWT ; “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau menciptakan yang lebih besasr dari makluhk ini?” Allah berfirman “Aku yang menciptakan dan  Aku lebih besar darinya”

 

Allahuakbar…. T_T

 

Kemudian Allah SWT melanjutkan firmanNYA : “Ya Izrail cabutan nyawa (mati) telah aku pasrahkan kepadamu untuk mencabutnya !”. Izrail bertanya, “Ya Tuhanku, dengan kekuatan apa aku mencabut nyawa, karena sesungguhnya mati itu lebih besar daripada aku?”

 

Kemudian Allah SWT pun member kekuatan pada Izrail, untuk mencabut mati, dan di genggamalah mati itu di tangannya. Dan Maut (mati) itu berkata. “Ya Tuhanku, izinkanlah aku untuk memanggil sekali saja seluruh langit” maka Allah SWT pun mengijinkannya. Kemudian Maut memanggil seluruh langit dan isinya dengan suara yang sangat amat keras ; “Aku adalah Maut !! Yang memisahkan tiap-tiap kekasih, Aku adalah Maut !! yang memisahkan suami istri! Aku adalah Maut !! yang memisahkan anak dengan ibunya, Aku adalah Maut !! yang memisahkan saudara laki-laki dengan saudara wanita ! Aku adalah Maut !! yang meramaikan kubur meskipun kamu berada di gedung besi yang terkunci rapat, aku akan memburumu dan menemukanmu. Tidak ada yang seorangpun, kecuali akan merasakan aku”

Sesungguhnya orang-orang kafir dan munafik adalah orang-orang yang celaka, ketika maut mendatangi mereka, Malaikat Azab yang hitam melotot dengan memakai pakaian dari siksa (Adzab). Lalu Malaikat Adzab duduk agak jauh dari si kafir, sampai datang Malaikatul Maut. Untuk mencabut nyawa orang kafir dan munafik, Malaikat Maut datang dalam bentuk yang sangat menyeramkan. Kemudian jiwa orang kafir itu bertanya, “Siapakah engkau, dan apa yang engkau kehendaki?”. Jawab Malaikat Maut, “Aku adalah Malaikat Maut, yang akan mengeluarkan engkau dari dunia, menjadikan anakmu yatim, menjadikan istrimu janda, hartamu menjadi warisan bagi ahli warismu, mereka tidak kamu senangi di kala kamu masih hidup. Sesunguhnya kamu tidak mendahulukan kebaikan untuk dirimu dan kamu tidak mendahulukan kebaikan atas akhiratmu. Maka pada hari ini aku datang mencabut nyawamu!”.

 

Ketika orang kafir mendengar jawaban Malaikat Maut, lalu ia berpaling kearah dinding. Tetapi tampak olehnya Malaikat Maut itu berada di hadapannya. Lalu di palingkannya wajahnya kearah lain, namun Malaikat Maut juga tampak di hadapannya juga, berkatalah Malaikat Maut, “Apakah kamu tidak mengetahui aku? Aku adalah Malaikat Maut (Izrail) yang mencabut nyawa kedua orangtuamu, engkau hidup bersama mereka, namun keberadaanmu tidak member manfaat pada mereka, pada hari ini, aku akan mencabut nyawamu, sehingga bisa di lihat oleh anak-anakmu, kerabatmu serta teman-temanmu, agar mereka dapat member nasihat kepadamu. Pada hari ini, aku adalah malaikat maut yang lebih banyak mempunyai kekuatan daripada engkau, yang memiliki banyak harta dan anak”.

 

Kemudian Malaikat Maut melanjutkan perkataannya, “Bagaimana engkau melihat dunia?” Jawab orang kafir, “Aku melihat dunia sebgai tipu daya yang mengingkari janji. Kemudian Allah SWT menciptakan dunia ini dalam bentuk suatu makhluk. Dan dunia itu berkata, “Hai manusia bermaksiyat! Apakah kamu tidak malu berbuat dosa dosa di dunia, dan kamu tidak mencegah dirimu dari durhaka. Sesunggunya kamu selalu mencari aku tetapi aku tidak pernah mencarimu dan kamu memisahkan antara yang halal dan yang haram, karena kamu menyangka bahwa dirimu tidak akan berpisah dari dunia. Maka sesungguhnya suatu saat aku (dunia) akan terbebas dari kamu dan amal perbuatanmu”.

 

Ketika orang kafir melihat hartanya jatuh ke tangan orang lain, maka harta itu berkata “hai orang yang durhaka! Kamu mencariku dengan jalan yang tidak benar, kamu juga tidak mentaasarufkan aku, tidak mensedekahkan aku pada orang fakir miskin, maka pada hari ini, aku telah jatuh menjadi milik orang lain!”

Dalam Al Quran Allah telah berfirman;

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy Syuaraa ; 88-89)

 

Maka berkatalah orang kafir yang telah mati itu, “Ya Tuhanku, Kembalikanlah aku, agar aku berbuat amal shalih yang pernah aku tinggalkan. Dan berfirman Allah SWT ; ”Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sedikitpun dan tidak pula mendahulukannya”

Maka di cabutlah nyawa oleh Malaikat Maut, jika orang itu beriman, maka ia berbahagia. Namun jika orang itu munafik ia akan celaka, karena apa yang di perbuatnya di dunia senantiasa di pantau, dan amalannya di tulis dalam kitab,

 

sebagaimana firman Allah SWT ;

“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin” (QS Al Muthaffifin ; 7)

 

Disadur dan di tulis ulang dengan sedikit penambahan dari buku “100 berita dari kubur” karya Haqiqi Alif dengan daftar pustaka yang mengambil dari kitab Sahih bukhari, shahih muslim, jawahirul bukhari, Riyaadlush Shalihin, Durratun nasihin, At-Tajriidu Ash-Sharih, Bulghul Maram, At-Tadzhib, Mukhtarul Ahadits An-nabawiyyah, Al-Jami’u Ash-Shaghir, As-Sab’iyyatu Fil Mawa’idzil Birriyat, Irsyadul Ibad, Qishashul Mi’raj, Tafsir Surat Yasin, Daqa’iqul akhbar, Mawa’idzul Usfuriyyah, al-Bidayah wan Nihayah, Al-Akbar.

Semoga bermanfaat dan menambah keimanan serta keyakinan kepada Allah SWT amin

 

MENGENAL MAKHLUK ALLAH – BIDADARI

Bismillahirahmanirrahim

 

Pada pembahasan kali ijinkan ini saya ingin mengulas mengenai makhluk Allah SWT yang bernama Bidadari, semoga dengan membaca uraian ini di harapkan agar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT semakin bertambah, dan semakin cinta serta mahabah . Betapa keagungan dan kebesaran Allah maha segala-galanya dan memberikan  gambaran betapa tidak mulai dan pemurahnya Allah SWT, sehingga kita semakin memohon dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT serta mengharapka   Ridlonya amin.

 

MENGENAL MAKHLUK ALLAH SWT – BIDADARI

 

Bidadari dalam arti yang sesunggunya hanya terdapat di dalam Surga. Bidadari dalam surga merupakan salah suatu bentuk servis Allah SWT kepada para ahli Surga. Bahkan bidadari-bidadari yang selalu di sebut-sebut Allah SWT dalam firman-firmanNYA, mampu membuat kaum muslimin berfasta biqul Khoirot untuk memperoleh bidadari-bidadari surga tersebut.

 

Satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa bidadari itu bukan sebagi tujuan kita dalam beribadah kepada Allah, karna bidadari merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang kedudukannya hanya sebagai hadiah bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, apabila kita benar-benar dalam beriman dan bertakwa kepada Allah SWT maka bidadari yang di janjikan Allah dalam Firman-firmanNYA akan mengikuti dengan sendirinya, jadi tiada alasan utama menjadikan bidadari sebagai tujuan kita dalam beribadah kepada Allah, dan cukup mangimaninya sebagai makhluk allah agar keimanan kita kepada Allah semakin meningkat karna percaya bahwa Janji Allah itu adalah hal yang Pasti terjadi bagi orang-orang yang beriman kepada_NYA.

 

Mereka (bidadari) adalah wanita suci yang selalu menundukkan pandangannya, tidak pernah melihat laki-laki selain suaminya, tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin, Mereka adalah wanita yang senantiasa merindukan suaminya setiap saat, keelokannya dan tempatnya yang terhormat, seakan –akan bidadari itu permata yakut dan marjan. Seperti yang di sebutkan Allah dalam firmanNYA.

 

(QS Ar-Rahman ; 58) Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan

 

Baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : Allah menciptakan bidadari terdiri dari 4 warna, putih, hijau, kuning dan merah. Tubuhnya di ciptakan dari Za’faran, anbar dan kafur. Rambutnya dari sutra, mulai dari jari-jari kakinya dampai kelututnya di tercipta dari Za’faran. Dari lutut sampai ke payudaranya di beri harum-haruman dari minyak misik. Mulai dari kedua payudaranya sampai ke lehernya di beri harum-haruman dari minyak anbar. Dari leher sampai kepala diberi harum-haruman dari kafur. Seandainya bidadari ini meludah dengan sekali ludahan ke dunia, maka semua air di dunia menjadi misik. Di dadanya tertulis nama suami-suaminya dan sebuah nama dari beberapa nama Allah. Pada setiap tangannya terdapat 10 gelang dari emas, jari-jarinya terdapat 10 cincin, pada kedua kakinya terdapat 10 binggel (gelang kaki) dari jauhar dan mutiara.

 

Ibnu Abas r.a meriwayatkan, bahwa baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “didalam durga terdapat bidadari yanag namanya aina. Ia diciptakan oleh Allah SWT dari 4 unsur, dari misik, kafur, anbar dan Za’faran. Tanahnya diadoni dengan air kehidupan.”

 

Seluruh bidadari selalu merindukan suaminya, jika ia meludah ke laut dengan sekali ludahan, maka pasti air laut itu akan menjadi tawar sebab dari air liurnya dileher bidadari terdapat tulisan :

“Barang siapa yang suka agar dirinya seperti aku, maka hendaklah beramallah dengan bertaat kepada Tuhannya”

 

baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya istri-istri penghuni surga (bidadari) selalu bernyanyi untuk suami mereka dengan suara yang  sangat merdu yang tidak bisa didengar oleh seorang pun (selain suaminya)” [Al-Jami’u Ash-Shaghir. halman : 79]

 

Ibnu Mas’ud r.a meriwayatkan bahwa baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “ketika allah menciptakan surge And, Allah SWT memanggil Jibril seraya berfirman : “Berangkatlah kamu ke surge, lihatllah apa yang telah aku ciptakan untuk hamba-hambaKU dan para kekasihKU” Jibril pun pergi mengelilingi surga, maka datanglah seorang bidadari menghampirinya, ia termasuk salah satu penghuni istana-istana surga, bidadari tersebut tersenyum pada jibril, maka bercahayalah surga dan akibat dari sinar giginya. Jibril langsuung bersujut, ia mengira cahaya itu berasal dari Nur Allah SWT yang Maha Mulia. Tidak lama kemudian bidadari itu memanggil Jibril : “Wahai makhluk yang di percaya Allah, apakah kamu tidak mengerti untuk siapa aku di ciptakan? ” Jibril menjawab ; “Tidak, aku tidak mengerti”. Bidadari tersebut berkata : “Allah SWT menciptakan aku untuk orang yang memilih ridla Allah dari pada menuruti kehendak hawa nafsunya”.

 

Ada keterangan dalam suatu hadist : tidak ada seorang hamba yang berpuasa Ramadlan kecuali Allah SWT akan menikahkan dia dengan seorang bidadari dalam suatu kemah yang terbuat dari intan putih yang diukir. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-NYA ;

(QS Ar rahman ; 72) (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.

Maksudnya adalah yang tersimpan dan ditutupi dalam kemah.

 

Dari Ibnu Amir r.a meriwayatkan, baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “Jika wanita ahli surga (bidadari) menengok ke bumi, maka bumi ini penuh bau misik serta dapat menghilangkan sinar matahari dan bulan ” ” [Al-Jamiu Ash Shaghir hlm 66]  Karena wajahnya yang bercahaya itu mampu meredupkan sinar matahari dan bulan

 

Dari Anas r.a meriwayatkan bahwa baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Jika wanita surga (Bidadari) muncul kebumi, maka keharumannya memnuhi antara langit dan bumi. (sinarnya) dapat menerangi langit dan bumi karena separoh kepala bidadari itu lebih baik daripada dunia seisinya  < Al-Jamiu Ash Shaghir.hlm;263>

 

baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang wanita penghuni surga menengok ke bumi pasti cahayanya akan menerangi bumi, bau keharumannya memenuhi antara langit dan bumi. Kudung bidadari yang melekat di kepalanya itu jauh lebih baik dari pada dunia seisinya ” [ Al-Jamiu Ash Shaghir hlm 263]

 

baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Wajah Bidadari itu bida di lihat, kamarnya lebih jernih (bersih) dari pada kaca. Lebih rendah-rendahnya mutiara yang di kenakannya itu bisa menyinari antara Timur dan Barat. (Setiap) bidadari mengenakan 70 pakaian yang tembus pandang , sehingga bisa di lihat sumsum betisnya dari luar kulitnya”

 

Annas r.a berkata baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Ketika aku di isra;kan (dijalankan waktu malam) aku masuk ke surga, didalam surga ada suatu tempat yang dinamakan “Al-Baidakh ” di atasnya terdapat kemah dari mutiara, Zabarjad hijau dan Yakut merah. Lalu ada ucapan : “Assalaamualaika Ya Rasulullah”. Aku lantas bertanya pada Jibril “Wahai Jibril, suara apa ini?”. Jibril menjawab ; “Itu adalah suara bidadari yang berada si dalam kemah, mereka minta izin pada Tuhannya untuk mengucapkan salam kepadamu, dan Allah-pun member izin pada meraka. Para bidadari itu pun berkata : “kami adalah wanita yang ridla, yang tidak akan marah selamanya, kami adalah wanita yang kekal yang tidak akan pergi selamanya”. Setelah itu, baginda Rasulullah SAW membaca firman Allah SWT”.

(QS Ar rahman ; 72) (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.

 

Mujahid berkata : Bidadari itu suci dari haid, berak, kencing, meludah, beringus, keluar mani dan anak [ihya ulumudin jilid IV hal 3009]

 

Dalam menafsiri ayat :

(QS. Yasin ; 55) Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).

 

Auza’iy berkata : “para penghuni surga itu sibuk merobek keperawanan bidadari” < ihya ulumudin jilid IV hal;3010>

 

baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya para penghuni surga ketika mensetubuhi istri mereka (bidadari) maka selalu kembali keperawanannya  [Al-Jami’u Ash-Shaghir. Hal;80]

 

baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW pernah di tanya: “Apakah penghuni surga juga bersetubuh ? beliau baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW menjawab: seorang dari penghuni surge akan di beri kekuatan dalam satu hari melebihi kekuatan 70 orang dari kalian (dalam bersetubuh) ” < ihya ulumudin jilid IV hal;3010>

 

baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “didalam durga itu terdapat pasar yang didalamnya tidak ada penjual dan pembeli, kecuali bebrapa bentuk (gambar) laki-laki dan wanita, ketika seseorang menginginkan sesuatu bentuk (baru bagi dirinya) maka ia masuk kedalam pasar tersebut. Didalam pasar itu tempat berkumpulnya para bidadari, mereka mengeraskan suaranya yang tidak bisa di dengar oleh makhluk sejenisnya. Mereka mengatakan : “kami adalah wanita kekal yang tidak akan sirna, kami adalah wanita yang nikmat yang tidak menyakitkan, kami adalah wanita yang ridla tidak pernah marah, maka bahagia sekali bagi orang-orang yang mendapatkan kami” < ihya ulumudin jilid IV hal;3010>

 

Anas r.a berkata baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya bidadari itu didalam surge senantiasa bernyanyi : “kami adalah bidadari yang cantik jelita yang disimpan bagi suami yang mulia” < ihya ulumudin jilid IV hal;3010>

 

Abu Umamah Al-Bahiliy berkata : baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “tidak ada dari seorang hamba yang masuk surga kecuali duduk di dekat kepalanya ada kedua kakinya ada dua orang bidadari yang selalu bernyanyi dengan suara yang sangat merdu yang bisa di dengar oleh manusia dan jin. Suaranya itu bukan seruling setan [maksudnya bukan berisi syair yang mengarah pada selain allah] melainkan memuji kepada Allah dan mensucikanNYA” < ihya ulumudin jilid IV hal;3011>

 

Abu Hurairah r.a berkata : “di dalam surge ada bidadari yang lebar matanya, ketika berjalan ia di iringi oleh 7000 pelayan wanita yang berada di sisi kiri dan kanannya, seraya berkata : “Dimanakah orang yang memerintahkan amar ma’ruf nahi munkar” < ihya ulumudin jilid IV hal;3014>

 

Meskipun bidadari itu memiliki banyak kelebihan dan derajat terhormat, tetapi di dalam surga  mereka masih kalah mulia dengan keempat wanita dunia yang memiliki keistimewaan. Karena keempat wanita di dunia ini  di surga menjadi junjungan seluruh penghuni surge, termasuk bidadari, keempat wanita tersebut adalah :

  1. Maryam binti Imran
  2. Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW
  3. Khatijah binti Khuwailid
  4. Dan Aisyah binti Muzahim

Sebagaimana di sebutkan baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW dalam sabdanya : “Wanita yang menjadi junjungan ahli surge itu ada empat, yaitu : maryam, Fatimah, khatijah dan Aisyah” (Al-Jami’u Ash-Shaghir. Hal 175)

 

Kecantikan yang abadi adalah kecantikan para bidadari yang seringkali para seniman dan sastrawan kehabisan kata-kata dalam menggambarkan keindahan dan kesuciannya. Semoga Allah mempertemukan kita dengan para bidadari tersebut di dalam surga amin….

Begitu besar agung dan mulianya Allah SWT yang mampu menciptakan makhluk sempurna bernama bidadari, sungguh janji Allah terhadap hambanya yang beriman dan bertakwa pastilah terjadi dan tiada di ragukan dan di sangsikan lagi, kewajiban kita agar kita senantiasa ingat akan Allah dan menjalankan segala perintah serta menjauhi laranganNYA dan mencintai serta tanpa menyekutukanNYA dengan suatu apapun, bidadari hanyalah sebuah janji tentang hadiah bukan sebagai di jadikan tujuan ataupun pengharapan atas suatu ibadah, karna beribadah dengan mengharapkan upah tak ubahnya dengan seorang budak yang mengharapkan gaji dari majikannya. Jadikanlah Allah SWT sebagai tujuan utama dalam beribadah dengan mengharap rahmat dan ridhoNYA, nisacaya kebahagiaan akan mengikuti dengan sendirinya tanpa kita minta akan haknya, karna Allah maha pemurah lagi maha Kaya.

 

Disadur dan di tulis ulang dengan sedikit penambahan dari buku “100 berita dari kubur” karya Haqiqi Alif dengan daftar pustaka yang mengambil dari kitab Sahih bukhari, shahih muslim, jawahirul bukhari, Riyaadlush Shalihin, Durratun nasihin, At-Tajriidu Ash-Sharih, Bulghul Maram, At-Tadzhib, Mukhtarul Ahadits An-nabawiyyah, Al-Jami’u Ash-Shaghir, As-Sab’iyyatu Fil Mawa’idzil Birriyat, Irsyadul Ibad, Qishashul Mi’raj, Tafsir Surat Yasin, Daqa’iqul akhbar, Mawa’idzul Usfuriyyah, al-Bidayah wan Nihayah, Al-Akbar.

 

Semoga bermanfaat dan menambah keimanan serta keyakinan kepada Allah SWT amin